Tuberkulosis (TB) masih menjadi beban permasalahan yang sangat besar di Indonesia dengan jumlah kasus baru sebesar 450.000 dan jumlah kematian 64.000 pertahun. Dalam sepuluh tahun terakhir sudah banyak pencapaian yang dilakukan Oleh Kementerian Kesehatan antara lain pencapaian indikator MDG’s yang dipastikan akan tercapai sebelum waktu yang ditentukan.  Selain itu pencapaian indikator yang penting adalah angka notifikasi kasus TB yang terus meningkat dan angka keberhasilan pengobatan TB di atas 90%.

Meskipun demikian masih diperlukan upaya yang lebih intensif dan sistematik untuk menjamin agar semua masyarakat yang terdampak TB dapat menjangkau layanan TB berkualitas baik di layanan pemerintah maupun swasta. Pada saat ini, hal tersebut masih sulit dilaksanakan dikarenakan pelayanan swasta belum seluruhnya melaksanakan penatalaksanaan TB sesuai dengan standar ataupun Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran  TB. Beberapa survei baik kuantitatif maupun kualitatif menunjukkan jika pasien TB tidak dilakukan penatalaksanaan sesuai standar maka hal ini akan dapat menurunkan kemungkinan pasien sembuh sehingga akan memicu terjadinya TB resisten obat (TB MDR/XDR) dan meningkatnya kematian karena TB.

Untuk dapat menjangkau seluruh penyedia layanan TB dan menjamin hak masyarakat untuk memperoleh layanan TB berkualitas, sejak 2005  Ditjen PP dan PL Kemenkes telah merintis kerjasama dengan Ditjen Dikti Kemendikbud untuk memasukkan modul TB dalam kurikulum Fakultas Kedokteran di Indonesia. Upaya tersebut dimulai di 9 Fakultas Kedokteran perintis dan menghasilkan buku TB dalam Kurikulum Pendidikan Dokter Berbasis Kompetensi yang digunakan sebagai acuan dalam memasukkan TB dalam materi ajar di Fakultas Kedokteran. Upaya ini pastinya menemui berbagai kendala diantaranya adalah sistem penyusunan kurikulum di masing-masing Fakultas Kedokteran yang beragam, sehingga dalam pengembangannya perlu dilakukan evaluasi dalam penggunaan buku tersebut di atas. Pada 2012, dengan bantuan dari TB Regional Training Center (ReTraC) FK UGM dilakukan evaluasi dan juga langkah tindak lanjut untuk implementasi.

Sebagai  tindak lanjut Evaluasi Implementasi Pedoman TB dalam Kurikulum Dokter Berbasis Kompetensi (KBK), ReTraC Universitas Gadjah Mada memfasilitasi serangkaian lokakarya pengembangan modul TB bagi pendidikan kedokteran di Indonesia pada April – Juni 2013. Hasil dari lokakarya berupa Pedoman Penyusunan Modul TB di Fakultas Kedokteran oleh  panel ahli dalam bidang TB dan pendidikan kedokteran di Indonesia dan kegiatan ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari Ditjen Dikti Kemendikbud.

Pedoman  Penyusunan Modul TB di Fakultas Kedokteran pada akhirnya akan diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan bersama Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan dan TB Regional Training Center (ReTraC), Universitas Gadjah Mada. Sosialisasi dan peluncuran Buku Pedoman Penyusunan Modul TB tersebut dilaksanakan Oleh Dirjen Dikti dan Dirjen PP dan PL, di hotel Acacia Jakarta pada Senin, 16 September 2013 dan dihadiri Oleh Dekan/ Wadek atau penanggung jawab penyusunan modul kurikulum 72 Fakultas Kedokeran di Indonesia.

Dalam Acara peluncuran dan sosialisasi Pedoman Penyusunan Modul TB di Fakultas Kedokteran disampaikan harapan dari Dirjen Dikti yang disampaikan oleh Ibu Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen DIKTI yaitu Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kedokteran harus diarahkan untuk pemenuhan kompetensi lulusan, sehingga diharapkan semua lulusan memahami kompetensi yang harus dimiliki dan ini akan berdampak pada pelayanan yang berkualitas di masyarakat. Selain itu juga diharapkan buku ini nantinya akan masuk di Perpustakaan Nasional dan seharusnya di tayangkan di website masing-masing Fakultas Kedokteran dan Universitas. Hasil dari penyusunan kurikulum ini nantinya akan dinilai oleh Kemenkes, IDI, Kolegium dan KKI.

Pada penutupan acara ini disampaikan pesan dari Dirjen PPPL Kemenkes RI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, bahwa program TB adalah satu-satunya program yang telah mencapai kesepahaman dengan organisasi profesi terutama dalam hal penatalaksanaan TB. Hal ini dicapai dengan berbagai upaya yang salah satunya adalah adanya ISTC (International Standars for TB Care) dan saat ini dengan adanya Pedoman Penyusunan Modul TB di Fakultas Kedokteran ini merupakan salah satu bentuk komitmen dari akademisi dalam mendukung pengendalian TB di Indonesia. Untuk semua hal tersebut Prof. Tjandra Yoga, menyampaikan penghargaan bagi semua yang telah terlibat, dan beliau juga berjanji untuk “membesarkan” dan “mempromosikan” buku ini supaya penerapan di seluruh FK bisa terlaksana dengan cepat dan ini berdampak untuk meningkatkan jumlah SDM kesehatan yang berkualitas terutama dalam pengendalian TB di Indonesia.

Untuk seluruh upaya ini Program Pengendalian TB Nasional menyampaikan penghargaan atas upaya seluruh tim penyusun yang mempunyai dedikasi yang tinggi dalam proses penyusunan pedoman ini, hal ini menunjukkan kepedulian mereka untuk menyelamatkan masyarakat umumnya dan pasien TB khususnya. Dan itu juga merupakan suatu wujud bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang bergerak ke arah yang lebih baik dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusia.

Categories: Berita

Leave a Reply


 

Find Us on Youtube



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia