Suatu bentuk dukungan sebaya untuk pasien Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) resistan obat atau dikenal sebagai TB MDR atau TB pada saat ini sedang menjadi perhatian dari seluruh kalangan.Hal ini dikarenakan penemuan pasien TB MDR yang meningkat dari tahun ke tahun, sehingga TB MDR merupakan suatu beban baru dalam masalah kesehatan di masyarakat. Di samping itu masalah yang timbul adalah  pengobatan TB MDR membutuhkan waktu yang lama yaitu 18-24 bulan dan juga biaya yang lebih besar sehingga akan melahirkan permasalahan ekonomi pada kehidupan pasien. Lamanya masa pengobatan juga akan membuat munculnya masalah pada pasien itu sendiri seperti rasa bosan, kecemasan, terisolasi, depresi bahkan kehilangan pekerjaan, hal yang lebih mengenaskan adalah timbulnya penolakan maupun pandangan negatif dari masyarakat.

Permasalahan yang dialami pasien TB MDR tersebut membutuhkan perhatian lebih terutama untuk penanganan aspek psikososial pasien. Pasien-pasien tersebut membutuhkan dukungan psikologis dari keluarga, masyarakat, petugas kesehatan juga dari pasien lainnya (peer / sebaya). Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang diselenggarakannya Training Peer Educator TB MDR.

Training Peer Educator TB MDR adalah training bagi pasien TB MDR yang telah konversi dan sembuh, yang bertujuan untuk meningkatkan peran pasien menjadi peer educator atau pendidik sebaya. Konsep peer educator ini dengan cara memberikan motivasi dan edukasi yang dilakukan oleh pasien kepada pasien. Pasien yang telah sembuh dilatih, diberdayakan, disiapkan lewat serangkaian pelatihan dan bimbingan untuk kemudian dapat berperan dalam mendukung dan mendampingi pasien TB MDR yang masih dalam masa pengobatan. Dukungan dan informasi dari dari rekan sebaya yang mempunyai latar belakang yang sama akan lebih efektif dalam memberikan dukungan psikologis bagi pasien agar semangat dan cepat sembuh.

roleplay-peta-tb

Peserta dipandu untuk belajar bermain peran (role play).

Training Peer Educator TB MDR pertama kali diselenggarakan di RSUP Persahabatan pada Bulan Mei 2013. Hasilnya ada 20 orang peer educator yang siap untuk mendukung dan mendampingi para pasien TB MDR yang sedang dalam masa pengobatan. Bahkan mereka menamai organisasi mereka yaitu Pejuang Tangguh (PETA).  Untuk itu, dalam rangka memberikan apresiasi bagi para peer educator yang telah bekerja secara sukarela dalam kurun waktu Mei-Agustus 2013 maka Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan Jakarta bersama dengan KNCV kembali menyelenggarakan Refreshing Training Peer Educator TB MDR. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada tanggal 20 – 21 September 2013 di Hotel Cemara, Jakarta Pusat.

Refreshing Training Peer Educator TB MDR diikuti oleh 20 orang peer educator yang berasal dari Jakarta, Bekasi, Bogor dan Tangerang. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Subdit TB Kemenkes RI, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, KNCV, FHI, Japeti, Layak dan tim TB MDR RSUP Persahabatani. Sedangkan untuk fasiliator utama adalah dari FHI, KNCV, Japeti dan Layak.

Tujuan utama Refreshing Training Peer Educator TB MDR adalah memberikan pengayaan dan pemahaman kepada peserta tentang TB MDR, meningkatkan kemampuan peserta dalam memberikan edukasi dan dukungan pada pasien TB MDR, memberdayakan peserta agar nantinya dapat terlibat secara aktif dalam memotivasi dan mengedukasi  pasien lain dan masyarakat, serta mengajak peserta untuk bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan masyarakat lingkungan  mereka.

Refreshing Training Peer Educator TB MDR dilaksanakan dalam dua hari dengan metodologi pemaparan materi secara interaktif, diskusi dan permainan/ ice breaking. Pada hari pertama, para peserta diberikan pemaparan materi secara interaktif mengenai TB MDR, role play atau bermain peran untuk mencapai komunikasi yang efektif, konsep menjadi educator dan motivator yang baik, cara membangun organiasasi peer yang baik, serta evaluasi hasil kerja dan kegiatan mereka dalam kurun waktu Mei-Agustus 2013. Saat evaluasi ini, peserta dapat berbagi dan memaparkan apa yang mereka alami serta kendala-kendalanya selama menjadi peer educator untuk kemudian dicari solusinya.

Pada hari kedua mereka diajarkan mengenai pengisian form peer educator, konsep mengenai jejaring dan rujukan, pendokumentasian kasus, rencana tindak lanjut (RTL) sebagai peer educator. Peer educator juga diberi kesempatan untuk mengemukakan kesan – kesan mereka baik suka maupun duka selama menjadi peer educator.

Harapan dengan diselenggarakannya refreshing training peer educator TB MDR bagi peserta adalah pengetahuan peserta mengenai TB MDR menjadi meningkat, kemampuan peserta dalam mengedukasi pasien TB MDR dan juga keluarganya menjadi meningkat, peserta dapat bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan masyarakat lingkungannya dalam mendukung pengendalian TB MDR serta peserta dapat berkomitmen untuk selalu mendukung, mendampingi, dan memotivasi pasien TB MDR agar selalu semangat menjalani pengobatan hingga mencapai kesembuhan.

Harapan lain terhadap kegiatan refreshing training peer educator TB MDR adalah kegiatan sejenis dapat dikembangkan juga dikota dan provinsi lain di Indonesia.  Mengingat edukasi, dukungan dan informasi yang dilakukan peer (sebaya) dinilai akan lebih efektif dalam aspek psikologis dan kesembuhan pasien TB MDR  karena mereka mempunyai latarbelakang yang sama. Selain itu, keberhasilan para peer educator melewati masa pengobatan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pasien lainnya dan masyarakat bahwa TB MDR dapat disembuhkan.

Dari adanya kegiatan dan lahirnya kelompok PETA ini menunjukkan bahwa masyarakat dan bangsa Indonesia sudah memulai suatu gerakan ke arah yang lebih baik, salah satunya adalah dengan peduli terhadap penderitaan sesama, dan kita berharap semua tujuan mulia dari teman-teman PETA ini akan membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. [re]

Categories: Acara, Berita

Leave a Reply


 

Find Us on Youtube



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia