Adapun informasi yang dimuat dalam WTI volume 24 adalah:

  1. Peningkatan Peran Pasien dalam Layanan TB Resistan Obat “Expert Patient Training”, pelatihan komunikasi pada petugas kesehatan merupakan bagian dari program PMDT. Pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan petugas kesehatan (dokter dan perawat) dalam memberikan edukasi, dukungan psikososial, dan persiapan kepatuhan pada pasien karena komunikasi merupakan alat dan proses untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut. Terciptanya komunikasi yang efektif dan empati diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan sekaligus kualitas hidup pasien TB MDR dan keluarganya.
  2. Kick Off Forum Stop TB Partnership Indonesia, saat ini penyakit TB  masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Setiap hari, 178 atau 65.000 orang setiap tahun meninggal karena TB. Setiap hari ditemukan lebih dari 1.230 atau 450.000 kasus baru setiap tahun. Sebagian besar pasien TB adalah usia produktif (15-55 tahun). Ironis sekali, karena penyakit ini dapat dicegah dan disembuhkan dengan teknologi pengobatan TB yang sudah berkembang pesat. Hal itu disampaikan Arifin Panigoro, Ketua Forum Stop TB Partnership Indonesia dalam acara “Kick Off” yang dihadiri Wakil Menteri (Wamen) Kesehatan RI Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D di Gedung Energy Jakarta pada 30 Mei 2013.
  3. Pencanangan Pertama Mobilisasi Sosial Program Pengendalian TB di Lingkungan Kemhan-TNI Manado Sulawesi Utara, 25 Mei 2013, salah satu potensi yang dikembangkan Kementerian Kesehatan  (Sub Direktorat TB, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan/Subdit TB, Dit. PPML, Ditjen PP dan PL) bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan (Direktorat Kesehatan, Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan/Dirkes-Ditjen Kuathan) adalah Mobilisasi Sosial (Mobsos) melalui  pemberdayaan Kader Mobsos TNI seperti Bapinsar di daerah teritorial khususnya Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) sebagai penyuluh tentang TB dan pencegahan dalam even-even yang ada dalam masyarakat, penemu suspek dan mengarahkan ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes seperti puskesmas), pengawasan pengobatan pasien TB, sebagai motivator PMO dan pasien TB terutama yang mangkir.
  4. Hasil Riset Operasional Tuberkulosis tahun 2012/2013, pentingnya riset operasional dalam upaya pengendalian penyakit telah diakui oleh para ahli. Banyak provinsi sebenarnya memiliki sumber daya yang cukup untuk dapat melaksanakan riset operasional dan mendukung program agar lebih intensif.  Potensi ini dapat ditingkatkan melalui kerjasama antara perguruan tinggi dan petugas pelaksana program.  Masukan dari perguruan tinggi akan dapat memperkaya program dengan ide dan terobosan baru, sementara keterlibatan pelaksana program akan mempertajam pemilihan prioritas masalah dan juga meningkatkan komitmen pelaksana program dalam menerapkan rekomendasi hasil riset operasional.
  5. Pertemuan Sosialisasi TB DOTS di Desa Pekraman Kabupaten Gianyar, keterbatasan pemerintah dan besarnya tantangan TB saat ini diperlukan peran aktif dengan semangat kemitraan dari berbagai insitusi dan semua pihak yang terkait, salah satu organisasi kemasyarakatan yang menjadi bagian dari kehidupan adat, budaya dan agama yaitu  Desa Pakraman sangat potensial untuk menjadi pengerak dan motivator bagi anggotanya termasuk dalam penanggulangan TB.
  6. Pembentukan kader TB yang aktif dan terampil, pendampingan aktif kepada pasien selama pengobatan TB membutuhkan waktu yang lama, terkadang merupakan salah satu faktor penghambat yang memungkinkan terjadinya ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan.  Disamping itu, masih adanya stigma/cap buruk tentang TB, serta terbatasnya informasi, bagaimana pelayanan dan pengobatan TB di masyarakat mempengaruhi motivasi pasien untuk sembuh. Untuk itu dibutuhkan peran masyarakat sebagai Kader Kesehatan  di Sarana Pelayanan Kesehatan menjadi tenaga penyuluh dan melacak serta mendampingi pasien serta keluarganya. Hal ini disampaikan dalam Pelatihan TB DOTS Bagi Kader Desa Pakraman Kabupaten Gianyar yang diselenggarakan pada 17-20 Juni 2013.
  7. Pencanangan Gebyar Pramuka Bidang PP dan PL pada Perkemahan Saka Bhakti Husada Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 27-30 Juni 2013, pramuka merupakan salah satu elemen yang potensial dalam mendukung pengendalian TB. Dengan anggota yang tersebar sampai ke tingkat akar rumput, berpotensi untuk dilibatakan dalam mendukung program pengendalian TB. Diharapkan pramuka dapat terlibat sebagai mitra petugas kesehatan dalam rangka penyebaran informasi TB, merujuk suspek ke layanan TB serta pendampingan pengobatan pasien TB hingga sembuh. Tujuan dari kegiatan pencanangan ini adalah menjadikan kader pramuka sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan kegiatan peningkatan program bidang PP dan PL.
  8. Perjalanan Dinas Team Program TB Nasional ke Beberapa Negara, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah berhasil mengembangkan program pengendalian TB. Pengembangan kemitraan yang kuat dengan masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah (LSM) yang bekerja di tingkat masyarakat menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan tersebut. Salah satu bentuk pengembangan kemitraan yang dilakukan adalah dengan mengirimkan staf Program TB Nasional untuk mengikuti kegiatan pelatihan, pertemuan dan konferensi ke beberapa negara di dunia. Selain itu, kegiatan ini dilakukan juga dalam rangka peningkatan kapasitas staf program TB Nasional dan belajar dari keberhasilan negara-negara lain dalam kegiatan pengendalian TB.

Unduh File

Categories: Arsip, Media Kit

Leave a Reply


 

Find Us on Youtube



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia