The Jakarta Globe – Meskipun angka kematian turun menjadi 50% selama satu dekade,  Indonesia masih melaporkan 465.000 kasus TB setiap tahun. Hanya India, China dan Afrika Selatan memiliki lebih banyak kasus.)

Paris. Sistem penjara Indonesia, sering diberitakan untuk aktivitas peredaran luas obat, kerusuhan dan pelanggaran hukum umum, akhirnya telah menemukan sesuatu untuk membantah hal diatas. Sebuah terobosan yang memberikan dampak yang signifikan pada peningkatan Indonesia dalam perjuangan melawan penyakit berbahaya.

Dyah Erti Mustikawati, Direktur untuk penanggulangan  TB di  Kementerian Kesehatan Indonesia menguraikan proyek percontohan yang dilakukan di beberapa penjara negara tersebut, saat konferensi global penyakit pernafasan menular awal pekan ini di Paris.

“Ada lebih dari 420 penjara di Indonesia dan sedikitnya 200 telah mulai melaksanakan  program pengendalian TB,” pernyataannya  kepada The Jakarta Globe di sela-sela konferensi.

“25 penjara telah memiliki program yang sangat komprehensif.”

Dia mencatat bahwa penularan TB di dalam penjara dianggap sangat serius, mengingat kepadatan penduduk yang parah dan sanitasi yang buruk dan kebersihan para tahanan yang mempengaruhinya.

“Peringkat TB sebagai penyebab paling umum keempat dari  morbiditas (penyakit) di penjara, tetapi peringkat pertama untuk kematian,” menurut Dyah.

“Sekitar 30% dari tahanan di Indonesia telah terkena penyakit ini.”

“Sayangnya TB sangat mudah menular dalam lingkungan penjara karena kebanyakan sel lembab dan narapidana hidup bersama dalam ruang sempit dan terbatas. Jadi jika anda telah menderita setidaknya satu kasus TB aktif, penyakit ini dapat mudah menyebar.”

Menurut Dyah, Kementerian Kesehatan telah meluncurkan  sebuah proyek percontohan, yang akan dilaksanakan dari waktu ke waktu di semua penjara nasional, untuk mengatasi penyebaran penyakit.

“Kami tahu situasi di penjara  yang tidak kondusif untuk mengurangi prevalensi TB, tapi sekarang kami memiliki komitmen untuk meningkatkan infrastruktur,” katanya.

“Hal itu termasuk memperbaiki sistem ventilasi dan mendirikan stand untuk mengumpulkan sampel ludah untuk pengujian, yang biayanya hanya sekitar $200 untuk setiap penjara.”

Yulius Sumarli, dokter di sayap penahanan dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang di Jakarta Timur, salah satu penjara yang mengambil bagian dalam program ini, mengatakan bahwa segera setelah sayap didirikan pada tahun 2008, para dokter menemukan sejumlah besar tahanan terinfeksi TB dan HIV.

“TB merupakan penyebab paling umum kematian di penjara Cipinang, jadi kita harus mengatasinya,” Menurut Yulius kepada The Globe.

“Waktu itu kami kewalahan karena kami tidak punya penilaian, tidak ada bantuan dari lembaga lain. Pada tahun 2009, kami mulai bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan beberapa NGO,” tambahnya.

Program intensif pada tahun 2012 setelah Kementerian Kesehatan dan Kementerian Kehakiman, yang mengawasi sistem penjara, mencanangkan target nol infeksi baru dan nol kematian akibat TB. Resolusi itu juga menyerukan untuk mengakhiri stigma terhadap narapidana dengan HIV/AIDS, yang sangat rentan untuk mendapatkan infeksi paru.

“Kami sejak itu telah melakukan skrining wajib bagi setiap narapidana baru. Mereka menjalani test HIV dan TB. Banyak orang beranggapan bahwa mereka mendapatkan penyakit di dalam penjara, tetapi kami tidak memiliki data untuk mengkonfirmasi hal ini, oleh karena itu test,” menurut Yulius.

Penjara juga melakukan skrining massa secara teratur untuk mengontrol penyebaran TB diantara narapidana. Mereka yang dicurigai telah terinfeksi dipindahkan ke ruang isolasi sambil menunggu pemeriksaan lebih lanjut.

“Jika mereka dikonfirmasi memiliki TB aktif, mereka akan dipindahkan ke ruang perawatan, dimana mereka harus tinggal sampai mereka tidak lagi (terinfeksi). Ini biasanya memakan waktu setidaknya 2 bulan sebelum mereka dapat bergabung kembali dengan sisa tahanan,” menurut Yulius.

Pemantauan kepatuhan narapidana ini untuk rezim pengobatan juga penting untuk memastikan mereka mengalami pemulihan yang cepat, Dia menambahkan. Pada penyakit yang dapat disembuhkan, lamanya pengobatan dan efek samping yang menyakitkan sering menimbulkan pasien frustrasi, menyebabkan banyak orang meninggalkan pengobatan mereka dan menempatkan diri mereka pada risiko TB kebal bermacam obat  atau MDR TB.

Kondisi ini jauh lebih sulit untuk disembuhkan karena pengobatan yang lebih lama dan lebih mahal, dengan obat yang lebih toksik dan efek samping lebih mengerikan.

Pejabat di Cipinang juga memberdayakan para tahanan untuk memantau kesehatan rekan-rekan mereka.

“Kami melatih petugas kesehatan kami dan narapidana untuk mengawasi pasien, memastikan mereka mengambil obat mereka pada waktunya. Para pasien juga harus mengambil obat di depan petugas,” kata Yulius.

Cipinang juga telah melatih 30 narapidana menjadi “Petugas Pengawas Batuk”, bertugas melaporkan setiap kasus sesame tahanan dengan batuk persisten ke klinik penjara. Yulius mengatakan para relawan bangga dengan pekerjaan mereka dan melakukannya dengan antusias.

“Kami menemukan satu kasus MDR TB melalui laporan dari seorang petugas batuk tersebut, dan kami segera rujuk pasien tersebut ke RS, ” katanya .

Penjara juga melacak pada narapidana setelah pembebasan mereka atau transfer.

“Cipinang adalah penjara tempat penahanan, sehingga sebagian besar narapidana hanya tinggal sebentar. Setelah mereka dihukum, mereka dipindahkan ke penjara lain, ” katanya .

Pejabat kesehatan Cipinang kemudian memberitahu institusi penerima tentang status TB narapidana. “Kami harus memastikan bahwa meskipun mereka telah dipindahkan, pengobatan mereka tidak akan terganggu. “

Narapidana diberikan relase juga dipantau, dalam kasus mereka oleh sebuah lembaga yang juga memberitahukan Pusat Kesehatan Masyarakat, atau Puskesmas, paling dekat dengan rumah individu tentang pengobatan yang mungkin dibutuhkan.

“Setelah mereka dibebaskan mereka tidak akan mendapatkan pengobatan gratis dari penjara, namun mereka masih akan dapat mengakses obat dari puskesmas, ” kata Yulius .

Keberhasilan program di penjara saat ini mengambil bagian yang menentukan bagaimana keberhasilan ini dikembangkan di penjara lainnya di negara ini.

Dyah mengatakan Indonesia bertujuan untuk memberantas TB pada tahun 2030, tetapi mengakui bahwa petugas kesehatan kedepan menghadapi tugas yang menakutkan.

Untuk sebuah negara untuk dapat menyatakan dirinya memberantas TB, prevalensi infeksi aktif dalam populasi umum tidak boleh melebihi 10 kasus per 100.000 orang. Angka saat ini di Indonesia adalah 185 per 100.000 penduduk, dan di penjara angka ini  adalah eksponensial lebih tinggi. Indonesia juga bertujuan untuk mengurangi angka kematian akibat penyakit ini sebesar 95% .

“Saat ini kami masih pada 185 kasus TB aktif per 100.000 penduduk , dengan penurunan tingkat hanya 2 persen pertahun , ” kata Dyah .

“Ketika Anda membandingkan ini ke negara-negara tetangga seperti Kamboja, di mana prevalensi TB menurun pada 4 atau 5 persen pertahun, Anda dapat melihat bahwa kita memiliki banyak hal yang harus dilakukan untuk mengejar ketinggalan. “

WHO memperkirakan bahwa ada 465.000 kasus baru TB setiap tahun di Indonesia, menempatkan negara ini urutan keempat terbesar TB di seluruh dunia, setelah India, Cina dan Afrika Selatan.

Kementerian Kesehatan mengatakan sekitar 130.000 orang yang terinfeksi dengan penyakit tersebut tidak tercover dalam pengobatan singkat dengan pengawasan langsung (DOTS), suatu bentuk dari “Petugas Pengawas Batuk” perluasan program ke populasi umum, di mana para pekerja kesehatan setempat dan anggota keluarga berfungsi untuk memantau kemajuan pasien dan memastikan kepatuhan terhadap rezim pengobatan.

Kementerian juga melaporkan bahwa pada tahun 2001, lebih dari 140.000 orang meninggal karena penyakit ini di Indonesia. Meskipun angka ini pada tahun 2010 adalah lebih dari setengahnya untuk 61.000 kematian, angka itu masih memprihatinkan,” kata Dyah. [dessy sagita]

Categories: Berita, Program TB

Leave a Reply


 

Find Us on Youtube



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia