WartaTB-e25Judul Warta            : Warta TB Indonesia volume 25
Edisi Penerbitan      : Oktober 2013
Jumlah halaman      : 8 halaman
Ukuran                   : A4

Adapun informasi yang dimuat dalam WTI volume 25 adalah:

  1. Pelatihan Comprehensive Course on Clinical Management of Drug Resistance Tuberculosis, Pelatihan ini ditujukan terutama untuk klinisi (Dokter/Spesialis Paru atau Spesialis Penyakit Dalam) yang akan menjadi Tim Ahli Klinis dalam pelaksanaan Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resistan Obat (MTRO) di seluruh provinsi di Indonesia
  2. Pejuang Tangguh (PETA), Training Peer Educator TB MDR adalah training bagi pasien TB MDR yang telah konversi dan sembuh, yang bertujuan untuk meningkatkan peran pasien menjadi peer educator atau pendidik sebaya. Konsep peer educator ini dengan cara memberikan motivasi dan edukasi yang dilakukan oleh pasien kepada pasien. Pasien yang telah sembuh dilatih, diberdayakan, disiapkan lewat serangkaian pelatihan dan bimbingan untuk kemudian dapat berperan dalam mendukung dan mendampingi pasien TB MDR yang masih dalam masa pengobatan. Dukungan dan informasi dari dari rekan sebaya yang mempunyai latar belakang yang sama akan lebih efektif dalam memberikan dukungan psikologis bagi pasien agar semangat dan cepat sembuh.
  3. Apresiasi Presiden RI Terhadap Upaya Pengendalian TB di Indonesia, …….”Bahkan kita menjadi contoh keberhasilan sebuah Negara, yang mampu menurunkan secara signifikan penderita Tuberkulosis, baik melalui pendeteksian dini maupun pengobatannya….”
  4. Sosialisasi Pedoman Penyusunan Modul TB untuk Pendidikan Dokter di Indonesia, Untuk dapat menjangkau seluruh penyedia layanan TB dan menjamin hak masyarakat untuk memperoleh layanan TB berkualitas, sejak 2005  Ditjen PP dan PL Kemenkes telah merintis kerjasama dengan Ditjen Dikti Kemendikbud untuk memasukkan modul TB dalam kurikulum Fakultas Kedokteran di Indonesia. Upaya tersebut dimulai di 9 Fakultas Kedokteran perintis dan menghasilkan buku TB dalam Kurikulum Pendidikan Dokter Berbasis Kompetensi yang digunakan sebagai acuan dalam memasukkan TB dalam materi ajar di Fakultas Kedokteran.
  5. USAID luncurkan Program CEPAT untuk perangi Tuberkulosis, Program USAID CEPAT dirancang dalam kordinasi erat dengan National TB Program (NTP) guna mendukung Penguatan Sistem Kemasyarakatan-salah satu dari enam pilar Model Public Private Mix (PPM) Komprehensif NTP untuk pengendalian TB di Indonesia. Program ini bekerja sama dengan masyarakat dan organisasi lokal lainnya dengan prioritas sasaran masyarakat yang tinggal di daerah kumuh perkotaan atau daerah terisolir, orang-orang dengan kekebalan tubuh kurang akibat kekurangan gizi atau terinfeksi HIV, termasuk perempuan dan anak.
  6. Indonesia Berperan dalam Forum Global Pertemuan Tahunan Access Advisory Committee… Pada 2006, The Global Alliance for TB Drug Development (TB Alliance) mulai menginisiasi jalan untuk menjangkau pasien: commissioned Pathway to Patients: Menjembatani dinamika Pasar Obat TB Global.  TB Alliances berusaha menjembatani perspektif kesehatan masyarakat dan kepentingan industri Obat agar memberikan manfaat secara optimal. Dalam menjalankan misinya TB Alliances merasa perlu untuk memperoleh dukungan dari Tim ekspert dan menginisiasi pembentukan Access Advisory Committee for TB Alliance.  Anggota dari komite ini dipilih sangat selektif berdasarkan rekomendasi dari pakar-pakar dibidang TB drug development dan Kasubdit TB (Dyah Erti Mustikawati) terpilih untuk menjadi salah satu anggota  tetapnya pada tingkat global.  Access Advisory Committee (AAC) terbentuk pada tahun 2010 dengan keanggotaan bertahan sampai sekarang.
  7. Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) Menjawab Tantangan Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia, SITT tahap 1 telah diperkenalkan penggunaanya kepada wasor TB dan petugas datin dari 33 provinsi pada acara Workshop Sistem Informasi TB tahap 1 di Bandung pada 6-9 Juni 2012. Workshop ini bertujuan agar petugas TB di provinsi dapat menggunakan SITT dan mampu memberikan pelatihan kepada wasor TB kabupaten/kota serta mulai terjalinnya kerja sama antara wasor TB dengan petugas datin. Pelatihan kepada wasor TB kabupaten/kota juga sudah dilaksanakan. Pengkayaan SITT tahap 1 akan diakomodir pada pengembangan SITT tahap 2 dengan tidak hanya memasukan informasi kasus dan logistik saja tetapi juga laboratorium dan data dasar (fasilitas dan ketenagaan) serta adanya link antara SITT dengan sistem informasi TB MDR (pengobatan OAT lini 2) yaitu E-TB Manager. SITT tahap 2 ini sepenuhnya berbasis web. [Tim AKMS]

Unduh Dokumen

Categories: Arsip, Media Kit

Leave a Reply


 

Find Us on Youtube



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia