JAKARTA-Terobosan alat diagnosis dan deteksi cepat untuk kasus Tuberkulosis (TB) terus didistribusikan di berbagai tempat. Sejak tahun lalu hingga September 2013, sudah ada 17 GeneXpert yang dipakai di sejumlah Puskesmas dan RSUD.

“Tahun ini akan ada 24 mesin lagi yang akan didistribusikan ke sejumlah daerah. Alat ini merupakan bentuk terobosan percepatan penanggulangan TB dengan mempermudah akses dan mempercepat diagnosis,” jelas Direktur Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes Tjandra Yoga Aditama bertepatan dengan peringatan Hari TB Sedunia, Senin (24/3/2014).

Sehingga pasien, khususnya suspek TB MDR dan TB HIV dapat memperoleh pengobatan sedini mungkin. Dengan alat tersebut, menurut Tjandra, deteksi TB dan resistensi terhadap rifampisin sebagai salah satu obat Anti Tuberkulosis yang utama dapat dilakukan hanya dalam waktu 2 jam.

Jika dibandingkan metode biakan dan uji kepekaan dengan metode konvensional bisa memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan. Resistensi terhadap Rifampisin merupakan proxy untuk TB kebal obat (TB MDR).‎

Implementasi awal GeneXpert pada 2012 didukung oleh USAID melalui proyek TBCARE I dimana KNCV sebagai lead partner mengadakan 17 unit GeneXpert beserta 5.200 cartridges. Kemudian Kemenkes pada akhir tahun 2013 melalui pendanaan GF ATM komponen TB mengadakan 24 alat GeneXpert berikut 15 ribu cartridge.

“Penempatan ke-24 alat GeneXpert tambahan tersebut dilakukan secara bertahap mulai Januari-Maret 2014. Pelayanan GeneXpert sudah bisa diperoleh oleh masyarakat di 23 rumah sakit atau laboratorium di 15 provinsi,” terangnya lagi.

Diharapkan, pada 2014 ini semua provinsi sudah bisa terlayani oleh alat deteksi cepat ini itu. (sic)

Categories: Berita

Leave a Reply


 

  

Find Us on Youtube



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia