By Jakarta Globe on 09:41 pm Mar 23, 2014
Category EditorialOpinion

Today is World Tuberculosis Day — an important reminder for people everywhere, and for people in Indonesia in particular.

According to the World Health Organization, 8.6 million people fell ill with tuberculosis in 2012 and 1.3 million died from it, mostly in low- and middle-income countries.

The current rate of active infections in Indonesia is 185 per 100,000 people, with this number being exponentially higher among the prison population.

There is still a very long way to go for Indonesia to rid itself of tuberculosis, a curable but deadly disease. One of the main problems is reaching all those infected and getting these people to undergo the right treatment. Treatment itself is often a long, difficult and expensive process, especially in the case of multiple drug-resistant tuberculosis or extensive drug-resistant tuberculosis.

There are 456,000 new tuberculosis cases in Indonesia annually, according to the WHO, and an estimated 7,000 Indonesians are suffering from multiple drug-resistant tuberculosis, of which only some 1,000 patients are undergoing treatment currently, the Health Ministry says.

The government is implementing a number of programs to bring down the number of infections, which is especially challenging in our chronically overcrowded prisons. But more should be done.

As Poonam Khetrapal Singh, the WHO director for Southeast Asia, says: “Drugs alone cannot beat tuberculosis in the community. The disease is a condition strongly influenced by low nutrition, poverty, social stigma, environment, rapid urbanization, and large population displacement.”

These are all factors that make Indonesia particularly vulnerable. They show that urgent, coordinated action is needed in the fight, and that the government can use all the help it can get.

Hari ini (24 Maret) adalah Hari Tuberkulosis Sedunia – pengingat penting bagi semua orang, dan untuk orang-orang di Indonesia pada khususnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 8,6 juta orang jatuh sakit dengan TB pada tahun 2012 dan 1,3 juta meninggal dunia, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Tingkat infeksi aktif saat ini di Indonesia adalah 185 per 100.000 orang, dengan jumlah eksponensial ini menjadi lebih tinggi di antara populasi penjara.

Masih merupakan perjalanan yang sangat panjang untuk Indonesia dapat melepaskan diri dari penyakit TB, penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan namun mematikan. Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah menggapai mereka yang terinfeksi dan membuat mereka mendapatkan serta menjalani pengobatan yang tepat. Proses pengobatan itu sendiri merupakan proses yang panjang, sulit dan mahal, terutama dalam kasus beberapa TB yang resistan terhadap obat atau TB MDR ekstensif.

Ada 456.000 kasus TB baru di Indonesia setiap tahunnya menurut WHO, dan diperkirakan 7.000 orang Indonesia menderita TB yang resistan terhadap obat, dan hanya sekitar 1.000 pasien yang menjalani pengobatan saat ini, Kementerian Kesehatan mengatakan.

Pemerintah telah melaksanakan sejumlah program untuk menurunkan jumlah infeksi ini, terutama yang berkaitan dengan penyebaran TB didalam penjara yang penuh sesak. Namun demikian masih banyak hal yang perlu dilakukan.

Sebagai direktur WHO untuk Asia Tenggara Poonam Khetrapal Singh, mengatakan: “Obat saja tidak bisa mengalahkan TB di masyarakat. Penyakit ini adalah suatu kondisi yang sangat tergantung oleh faktor nutrisi yang rendah, kemiskinan, stigma sosial, lingkungan, urbanisasi yang cepat, dan perpindahan penduduk yang besar“.

Ini semua adalah faktor yang membuat Indonesia sangat rentan terhadap penyebaran TB. Oleh karena itulah diperlukan adanya urgensi, melakukan tindakan yang terkoordinasi dalam melawan penyakit TB, dan bahwa pemerintah dapat mendayagunakan semua dukungan yang dapat diperoleh.

Categories: Berita

Leave a Reply


 

Find Us on Youtube



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia