JAKARTA-Persoalan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sulit dituntaskan karena sejumlah hal. Selain karena masih menjadi stigma negatif di kalangan masyarakat, keterbatasan fasilitas penunjang juga menjadi kendala.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga Aditama. Menurutnya keterbatasan tools TB saat ini berpengaruh terhadap penuntasan kasus TB di tanah air.

“Antara lain, keterbatasan alat diagnosis TB, kekinian obat, dan vaksin,” jelasnya dalam Simposium Nasional  dan Seminar Awam TB Bisolvon di Jakarta, Sabtu (29/3).

Meski sudah ada rapid test untuk TB dan TB-MDR tetapi belum memenuhi syarat sebagai sarana diagnosis di PoC (point of care). Kedua, soal kekinian obat TB. Dia katakan, hingga saat ini belu ada penemuan obat TB jenis baru.

“Obat yang terakhir ditemukan umurnya sudah 40 tahun. Sehingga ada sejumlah obat yang tidak kompatibel dengan obat ARV yang dikonsumsi pasien TB-HIV,” ulasnya.

Hampir sama dengan obat, vaksin TB yang ada saat ini merupakan penemuan 90 tahun lalu. Sehingga, efek proteksi terhadap TB paru sangat unreliable. “Selain itu juga terbukti tidak ada dampak terhadap epidemi TB. Maka itu, para ahli di luar negeri tengah menguji sejumlah vaksin baru untuk TB,” tandasnya. (sic)

Categories: Berita

Leave a Reply


 

Find Us on



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia