• Feb : 19 : 2014 - TB TEchnical Assistance Mechanism – tbteam
  • Feb : 17 : 2014 - 45th Union World Conference Flash – Call for abstract submission
  • Feb : 17 : 2014 - HIV/TB Research Frontiers Meeting
  • Dec : 11 : 2013 - DirJen PP dan PL dan Global Fund Menandatangani Grant Signing GF SSF Fase 2
  • Oct : 18 : 2013 - Workshop Penguatan Mananejemen dan Analisis Data

MANAJEMEN TERPADU PENGENDALIAN TB RESISTAN OBAT (MTPTRO)

 Beban permasalahan TB resistan obat, TB MDR, danTB XDR

  • Di tingkat global, Indonesia berada diperingkat 8 dari 27 negara dengan beban TB MDR terbanyak di dunia denganperkiraan pasien TB MDR di Indonesia sebesar 6900, yaitu 1,9% dari kasus baru dan 12% dari kasus pengobatan ulang. Diperkirakan kasus TB MDR sebanyak 5.900 kasus yang berasal dari TB Paru baru dan 1.000 kasus dari TB Paru pengobatan ulang (WHO global report 2013).
  • Hasil DRS(Drug Resistance Survey) di Jawa Tengah yang dilaksanakan pada 2006 menunjukkan bahwa 1,8% TB MDR ditemukan pada TB kasusbaru dan 17,1%ditemukan pada kasus TB yang pernahmendapatkanpengobatansedangkanhasil DRS di JawaTimurpadatahun 2009 menunjukkan bahwa 2% TB MDR ditemukan pada TB kasus baru dan 9,7% ditemukan pada kasus TB yang pernahmendapatkanpengobatan.
  • Pengobatan yang tidak standar terhadap pasien yang “diduga” TB Resistan Obat atau TB MDR yang dilakukan di rumah sakit, B/BKPM, klinik swasta, praktisi swasta, dan fasyankes lainnya semakin memperparah situasi resistansi kuman TB.

 

Definisi TB resistan obat, TB MDR dan TB XDR

  • TB resistan Obat adalah TB yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang telah mengalami kekebalan terhadap OAT.
  • Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) atau TB MDR adalah TB resistan Obat terhadap minimal 2 (dua) obat anti TB  yang paling poten yaitu INH dan Rifampisin secara bersama sama atau disertai resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin dan pirazinamid.
  • Extensively Drug Resistant Tuberculosis atau XDR TB adalah TB MDR disertai dengan kekebalan terhadap obat anti TB lini kedua yaitu golongan fluorokuinolon dan setidaknya satu  obat anti TB lini kedua suntikan seperti kanamisin, amikasin atau kapreomisin.

PenularanTB ResistanObat, TB MDR dan TB XDR?

Penularan kuman TB resistan obat, TB MDR maupun TB XDR adalah sama seperti penularan kuman TB yang tidak resistan obat pada umumnya. Orang yang tertular (terinfeksi) kuman TB Resistanobat, TB MDR atau TB XDR dapatberkembangmenjadi “sakit TB”danakanmengalami“sakit TB MDR” dikarenakan yang ada di dalam tubuh pasien tersebut adalah kuman TB MDR. Pasien TB MDR dapat menularkan kuman TB yang resistan obat kepada masyarakat disekitarnya.

Bagaimana kuman TB dapat menjadi resistan?

Resistan terhadap obat anti TB dapat terjadi pemberian obat yang tidak tepat yaitu pasien tidak menyelesaikan pengobatan yang diberikan, petugas kesehatan memberikan pengobatan yang tidak tepat baik paduan, dosis, lama pengobatan dan kualitas obat,demikian pula adanya kendala suplaiobat yang tidak selalu tersedia.

Siapa yang mempunyai risiko terkena TB Resistan obat, TB MDR dan TB XDR?

TB Resistan obat dapat mengenai siapa saja, akan tetapi biasanya terjadi pada orang yang:

  • Tidak menelan obat TB secara teratur atau seperti yang disarankan oleh petugas kesehatan
  • Sakit TB berulang serta mempunyai riwayat mendapatkan pengobatan TB sebelumnya
  • Datang dari wilayah yang mempunyai beban TB Resistan obat yang tinggi
  • Kontak erat dengan seseorang yang sakit TB Resistan Obat, TB MDR, atau TB XDR.

Diagnosis TBResistanObat, TB MDR dan  TB XDR

Diagnosis TB Resistan obat, TB MDR dan TB XDR dilakukan dengan menggunakan tes cepat dengan metode PCR (Xpert MTB/RIF), pemeriksaan biakan serta uji kepekaan kuman terhadap obat TB (Drugs Sensitivity Test/DST).

 

Pengobatan TB Resistan Obat, TB MDR dan TB XDR

Pengobatan TB Resistan Obat, TB MDR, dan TB XDR lebih sulit jika dibandingkan dengan pengobatan kuman TB yang masih sensitif. Angka keberhasilan pengobatan tergantung kepada seberapa cepat kasus TB resistan obat ini teridentifikasi dan ketersediaan pengobatan yang efektif. TB resitan obat dan TB MDR dapat disembuhkan, meskipun membutuhkan waktu sekitar 18-24 bulan. Harga obat TB lini kedua jauh lebih mahal (± 100 kali lipat dibandingkan pengobatan TB biasa) dan penanganannya lebih sulit. Selain paduan pengobatannya yang rumit, jumlah obatnya lebih banyak dan efek samping yang disebabkan juga lebih berat.

Pengobatan TB XDR lebih sulit lagi karena kuman TB telah kebal terhadap OAT lini pertama maupun lini kedua sehingga pilihan paduan OAT TB XDR sangat terbatas. Meskipun demikian di beberapa negara yang banyak ditemukan pasien TB XDR melaporkan keberhasilan pengobatan sebesar 50-60 % tergantung dari seberapa berat penyakitnya, status imunitas pasien serta berapa banyak OAT lini pertama dan kedua yang sudah tidak dapat lagi digunakan karena kuman TB telah kebal.

 

Bagaimana  mencegah terjadinya TB resistan obat, TB MDR dan TB XDR?

  • Kunci pencegahan TB MDR adalah dengan mendiagnosis secara dini setiap terduga TB resistan obat dan dilanjutkan dengan pengobatan dengan OAT lini kedua sesuai standar. Pengobatannya harus dipantau kepatuhan dan ketuntasannya, serta harus dilaporkan kedalam system surveilans.
  • Pengobatan TB dengan tatalaksana yang tidak standar baik dalam hal paduan, lama dan cara pemberian pengobatan dapat menjadi factor pencetus untuk meningkatnya jumlah kasus TB resistan obat dan TB MDR. Penggunaan obat anti TB lini kedua (missal siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin, kanamisin dll) secara sembarangan dapat dapat memicu  munculnya TB XDR.
  • Untuk mencegah penularan kuman TB MDR, pencegahan dan pengendalian infeksi yang tepat harus dilakukan disetiap fasyankes yang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien TB Resistan obat, TB MDR/ XDR, termasuk juga menjaga lingkungan tempat tinggal pasien TB Resistan obat, TB MDR/ XDR.

 

Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resistan Obat (MTPTRO) atau Programmatic Management of Drug Resistant TB (PMDT)

  • MTPTRO adalah kegiatan yang bertujuan untuk menangani pasien TB resistan obat, TB MDR, dan TB XDR. Strategi kegiatan ini didasarkan pada 5 komponen DOTS yaitu :
    • Komitmen politis berkesinambungan untuk meningkatkan sumberdaya manusia dan sumberdaya keuangan dalam penanganan TB MDR.
    • Diagnosis berkualitas melalui tes cepat dengan metode PCR (Xpert MTB/RIF), pemeriksaanbiakan dan uji kepekaan obat (DST) yang terjamin mutunya untuk deteksi kasus pada orang yang diduga (suspek) TB Resistan obat.
    • Pengawasan menelan obat secara langsung menggunakan paduan OAT lini kedua.
    • Ketersediaan OAT lini kedua secara berkesinambungan.
    • Sistem pencatatan dan pelaporan yang memastikan penilaian terhadap hasil keluaran setiap pasien dan penilaian terhadap program DOTS secara keseluruhan.
  • DuatujuanutamaMTPTRO adalah;
    • Mencegah terjadinya kasus TB Reistan obat melalui pelayanan DOTS yang bermutu
    • Melaksanakan manajemen kasus TB Resistan Obat secara terstandarisasi
  • Komponenutamadalam MTPTRO:
    • Diagnosis dengan menggunakan kultur dan uji kepekaan obat di laboratorium yang tersertifikasi oleh Laboratorium Supranasional;
    • Pengobatan TB Resistan Obat (TB MDR) yang terstandarisasi yang dilakukan oleh Tim Ahli Klinis di RS Rujukan TB MDR;
    • Pelayanan di fasilitas layanan rawat jalan penuh, kecuali jika kondisi klinis pasien memburuk dan terdapat keputusan tim ahli klinis untuk dirawat inap; dan
    • Pengawasan menelan obat secara langsung setiap hari oleh petugas kesehatan.
  • MTPTRO memerlukan dukungan dan keterlibatan aktif dari para pemangku kepentingan di berbagai tingkatan mulai dari tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
  • Pelayanan TB Resistan obat (TB MDR) adalah pelayanan berbasis rujukan dengan penguatan pada pengendalian infeksi. Mengenai hal tersebut telah dikeluarkan SE dirjen PP dan PL nomor PM.01.06/III.1/1755/2012 tanggal 18 Oktober 2012 mengenai Alur rujukan Pasien TB MDR dan Alur rujukan suspek TB MDR/ rujukan sputum untuk diagnosis TB MDR diutamakan untuk Provinsi yang belum mempunyai RS rujukan TB MDR (borderless approach). Secara bertahap, diharapkan pada 2014 seluruh penduduk Indonesia mempunyai akses terhadap pelayanan PMDT.
  1. Sampai dengan tahun 2013 terdapat 13 RS Rujukan TB MDR  di 12 Provinsi yaitu RS Persahabatan Jakarta, RS dr. Soetomo dan, RS. dr. Syaiful Anwar Jatim, RS. dr. Moewardi Jateng,  RSUD Labuang Baji Sulsel, RS Hasan Sadikin Jabar, RS Adam Malik Sumut, RS Sanglah Bali, RS dr. Sardjito Yogyakarta, RSUD Jayapura Papua, RSUD Depati Hamzah Babel, RSUD Arifin Ahmad Riau, dan RSU Ahmad Mohtar Sumbar
  2. Sampai dengan bulan November 2013, telah terjaring 1947 pasien terkonfirmasi TB resistan obat dan TB MDR dari 7310 suspek TB MDR yang diperiksa, dimana1.496 diantaranya sudah menjalani pengobatan. Angka keberhasilan pengobatan pada pasien TB MDR sekitar 66%.
  3. Sampai akhir tahun 2013, terdapat 7 laboratorium yang tersertifikasi untuk pemeriksaan DST OAT lini pertama yaitu Lab. Mikrobiologi FK-UI, Lab. Mikrobiologi RS. Persahabatan, BBLK Surabaya, BLK Provinsi Jawa Barat, Laboratorium NHCR-UNHAS Makassar, BLK Semarang, dan BLK Jayapura. 5 laboratorium diantaranya juga sudah tersertifikasi untuk pemeriksaan DST OAT lini kedua, kecuali BLK Semarang dan BLK Jayapura yang baru tersertifikasi untuk pemeriksaan DST lini pertama saja.
  4. Pemantauan pasien TB MDR dilakukan dengan pemeriksaan biakan (kultur) di laboratorium yang sudah teruji mutunya diketujuh lab tersebut diatas dan di 2 lab lainnya yaitu Laboratorium Mikrobiologi FK-UGM dan RS. Adam Malik
  5. Penegakan diagnosis TB Resistan obat khususnya Resistan Rifampisin dilakukan dengan menggunakan tes cepat dengan Xpert MTB/RIF. Selain dapat mempercepat diagnosis pasien TB Resistan Obat, Xpert MTB Rif juga digunakan untuk mempercepat diagnosis TB pada pasien dengan HIV Positif. Hinggatahun 2013, pemeriksaantescepatXpert MTB Rif dapatdiakses di 17 laboratorium yaitu Laboratorium Mikrobiologi FK-UI, RS Persahabatan, RS Hasan Sadikin,RSdr. Moewardi, RS dr.Soetomo,  RS Saiful Anwar, BLK Provinsi Jawa Barat, BBLK Surabaya, RS Adam Malik, FK-UGM, RS Sanglah, RS Labuang Baji, NHCR-UNHAS Makassar, RS Kariadi, RSUD Cilacap, RS Pengayoman Cipinang dan BLK Provinsi Papua. Pada tahun 2014 direncanakan setiap provinsi akan mempunyai akses tes cepat dengan Xpert MTB/RIF

Find Us on



Sponsors

  • Global Fund Fighting AIDS, Tuberculosis, Malaria
  • WHO Stop TB Departement
  • From The American People
  • KNCV Indonesia